Tampilkan postingan dengan label Cerita Horor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Horor. Tampilkan semua postingan

Bertemu Almarhumah Ibu di Alam Gaib

Posted by Unknown 0 komentar

Ketika aku masih bayi merah umur 3 hari, ibuku meninggal dunia karena kondisinya yang lemah sehabis melahirkanku. Aku dan kelima kakakku pun harus merelakan kepergiannya. Aku sendiri kemudian diangkat oleh orang tua yang hingga kini amat menyayangiku.Bertahun-tahun aku terpisah dari keluargaku tanpa sepengetahuanku.
Misteri ini baru terungkap ketika keluargaku di kampung memberi kabar, bahwa nenekku, ibu dari ayahku sakit keras. Dengan sedikit tidak percaya akhirnya kunyatakan aku bersedia pulang.
Sesampai di desa kelahiranku, aku disambut hangat oleh keluargaku. Mungkin sekian tahun terpisah kini dipertemukan kembali, hingga sakit nenekku akhirnya sembuh juga atas kehadiranku.

Setelah tiga hari di desa, aku diajak berziarah ke kuburan ibu dan kakekku. Setelah membersihkan sekitar perkuburan aku membaca Surat Yaasin. Ketika itulah aku merasakan hal yang sangat aneh. Entah kenapa, mataku terasa berat dan tak bisa melihat sama sekali. Rupanya, aku jatuh pingsan.

Ketika siuman dan kubuka mataku, kulihat betapa indahnya suasana kamar tempatku berada. Banyak sekali benda-benda antik yang berkilauan. Bahkan tempat tidurku sendiri beralaskan permadani bercorak keemasan.

“Dimanakah aku?” batinku.
“Budi…!” sapa seseorang yang entah darimana telah ada di sampingku.
Kupandangi orang yang ternyata sesosok laki-laki agak tua namun rambutnya belum beruban, dengan umur berkisar 60-an tahun.
“Tidak usah takut, Nak!” ucapnya kembali.
“Siapa Bapak ini?”.
“Aku adalah kakek dari pihak ibu kandungmu, Nak!”
“Jadi, aku sudah mati?” tanyaku dengan sedikit khawatir.
“Belum, dan lihatlah, itu Ibumu berdiri di dekat pintu!”

Lalu kupandangi ibuku. Kulihat ada senyum di bibirnya dan sebening air mata di pipinya. Ia mendekatiku dan mengusap rambutku.
“Ibu…!” ucapku sedikit bergetar karena haru.

Aku mencoba menerima kenyataan hidupku walau aku sangat bingung, kenapa aku bisa bersama mereka yang sudah lama tiada. Dan aku merasakan dekapan hangat dari orang yang sangat merindukanku. Kemudian aku bertanya dalam kebisuan yang terjadi dengan rasa haru itu.
“Bu, seandainya aku masih hidup kenapa aku berada di tempat ini?”
“Kau tidak usah takut, Anakku! Kami membawamu ke sini untuk bersama kami.”
“Tapi, aku juga akan mati sebelum ajalku?”
“Sudahlah, aku harap kau bisa menyesuaikan diri, Nak!”

Aku tak bisa menolak dan entah kenapa aku menuruti begitu saja keinginan mereka.
Singkat cerita, sudah berhari-hari aku berada bersama almarhumah ibu dan kakekku. Entah di alam apa? Kucoba mengamati keadaan alam di sekitarku.

Kulihat bukit-bukit yang membentang luas, dan aku merasakan sangat nyaman. Aku melupakan keadaanku sesungguhnya. Rasanya, aku belum pernah melihat pemandangan alam seperti ini sebelumnya. Begitu menyenangkan.

Tetapi yang membuatku merasa sangat aneh, kenapa setelah berhari-hari berada di tempat ini tak menemukan sosok manusiapun kecuali hanya ibu dan kakek. Hal ini membuatku sangat bingung, hingga suatu saat kuteringat kehidupanku di dunia. Tanpa sengaja aku mendengar bisikan bahwa aku harus pulang. Tetapi bisikan itu hilang begitu saja.
“Aku ingin pulang, tapi jalan mana yang harus kutempuh untuk bisa pulang?” batinku.

Ketika batinku berkecamuk sedemikian, tanpa sengaja kudengar percakapan ibu dan kakek. Sepertinya terjadi sebuah keributan. Kudengar kakek menyebut nama ibuku Ratih.
“Ratih, kita harus memulangkan Budi ke alamnya, karena ini bukan alam untuk dia!” tegas kakekku.
“Ayah, aku tak bisa melepaskan Budi, karena aku tak ingin anak itu diasuh oleh orang yang bukan dari keluarga kita,” jawab ibuku dengan nada memelas. Sempat kulihat ibu menangis.
“Aku tidak mengizinkanmu untuk menahan Budi,” kata kakekku dengan kasar.

Tangis ibu semakin pilu, sampai akhirnya kakek memanggilku. Kakek kemudian menarik tanganku, mengajakku pergi. Ibu terus mengejar kami dan memohon agar aku kembali padanya. Akhirnya, tibalah kami ditepi sungai dan kakek memaksaku untuk menaiki sebuah perahu. Kakek mendorong perahu itu ke tengah.

Aku dan perahu itu dibawa arus yang sangat deras, seperti sebuah jeram. Aku berteriak meminta pertolongan. Sepertinya tak ada yang mendengar teriakanku, sebab yang kulihat hanya pohon-pohon yang besar dan nampak sunyi.

Aku semakin panik karena di hadapanku terdapat sebuah air terjun yang tinggi. Akhirnya, aku hanya bisa pasrah. Air terjun itu itu melemparku ke bawah, dan kurasakan tubuhku lemas tak bisa berbuat apa-apa. Seketika itu pula mataku terasa berat. Semakin lama pandanganku berubah gelap.

Anehnya, ketika siuman dan kubuka kembali mataku, ternyata aku sudah ada di kamarku. Kulihat poster-poster pajanganku. Tak lama berselang, kulihat juga ibu dan ayahku angkatku. Mereka begitu bahagia melihat keadaanku. Dan menurut mereka aku sudah pulih dari sakit.

Kuceritakan apa yang telah kualami saat aku tak sadarkan diri. Kudengar juga penuturan mereka bahwa aku tak sadarkan diri hampir 2 minggu, bahkan sempat seminggu dirawat di rumah sakit. Karena dokter tak mampu mendeteksi keadaanku akhirnya aku dirawat dirumah dengan apa adanya.

Kesehatanku pun mulai pulih, tetapi aku sering bermimpi bahwa kakek berpesan agar aku tidak usah berziarah lagi ke pusara ibuku. Entah kenapa? Aku tak tahu jawabannya.
Aku hanya bisa berdoa pada Allah SWT agar ibu dan kakekku diberi ketenangan. Aku berharap agar Tuhan selalu memberi jalan terbaik buatku. Walau aku bingung apa yang terjadi padaku….

Baca Selengkapnya ....

Cerita mistis menjelang pemakaman Soeharto

Posted by Unknown 0 komentar

Astana Giribangun merupakan makam keturunan Kerajaan Mangkunegaran. Ternyata makam itu memiliki daya mistis dalam sejarah perjalananya. Muncul mitos bahwa makam tersebut merupakan tempat sakral dan tidak bisa diperlakukan sembarangan.

Posisi dan keberadaan Astana Panagdegan di atas Astana Giribangun di lereng barat Gunung Lawu tepatnya terletak di Desa Karang Bangun, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sebagai leluhur di atasnya melindungi atau orang Jawa menyebutnya "hamemayungi" menjadi payung keberadaan makam anak cucunya.

Beberapa kejadian dan fenomena mistis membuktikan keberadaan Astana Mangadeg, komplek pemakaman para penguasa Istana Mangkunegaran, salah satu pecahan dinasti Mataram. Makam itu merupakan Raja Mangkunegoro III (sebutan jawa; Mangkunegoro III) keturunan Raja Mataram Panembahan Senopati selalu melindungi dan merestui makam anak cucu di bawahnya.

Salah satu yang dimakamkan disini adalah Kanjeng Pangeran Adi Pati arya Sri Mangkunegara I. Pangeran Adi terkenal dengan sebutan Pangeran Samber Nyowo. Tokoh kesohor raja Mangkunegaran dikenal sakti mandraguna dan selalu menjadi rujukan raja-raja Mataraman baik Surakartan (Solo) dan Ngayogyokarto Hadiningrat (Yogya).

Kejadian-kejadian mistis itu seolah-olah kedua raja dan sesepuh Mangkunegaran yang dimakamkan di sini di antaranya Kanjeng Pangeran Adi Pati Arya Sri Mangkunegara I, atau disebut Pangeran Samber Nyowo memberikan restu maupun memberikan perlindungan pada saat-saat tertentu dari kejahatan atau perbuatan tangan-tangan jahil.

Beberapa peristiwa dan fenomena mistis aneh terjadi di antaranya saat makam Presiden Kedua Indonesia, HM Soeharto digali.  Suasana pemakaman Soeharto di Astana Giribangun kala itu sedang redup, tak ada awan. Hanya angin yang berhembus pelan saat itu.

Soeharto dimakamkan pada Minggu Wage, 27 Januari 2008 setelah Azan Asar sekitar pukul 15.30 WIB. Keluarga besar Soeharto dan sejumlah tokoh ternama baik dari dalam maupun luar negeri.
Sebelum penggalian, keluarga besar Soeharto melakukan upacara Bedah Bumi. Tujuannya adalah agar penggalian dapat berjalan lancar dan selamat. Upacara tersebut dipimpin oleh Begug Purnomosidi mantan Bupati Wonogiri.

Upacara dimulai dengan menancapkan linggis ke tanah pemakaman sebanyak tiga kali. Yang pertama, tidak terjadi apapun dan begitu pula dengan yang kedua. Namun, kejadian yang membuat merinding bulu kuduk terjadi saat linggis mengoyak tanah untuk kali ketiganya.

“Tiba-tiba, duar! Terdengar suara ledakan yang sangat keras bergema di atas kepala kami,” kata juru kunci makam keluarga Soeharto di Astana Giribangun Soekirno.

Para penggali makam dan orang-orang di sekitarnya sontak kaget mendengar ledakan itu. Mereka saling berpandangan. Bingung. Mencoba mereka-reka dan mencari-cari dari mana asal suara menggelegar itu.

“Bukan bunyi petir, lebih mirip suara bom besar meledak di atas cungkup Astana Giribangun,” kata Sukirno.

Anehnya, tak ada yang porak poranda. Tak ada benda yang bergeser karena suara ledakan itu. Terbesit di pikiran, mungkin itu suara ghaib. Semua yang ada di tempat itu terdiam, terpaku. Lalu, suara Begug Purnomo Sidi memecah keheningan.

“Bumi mengisyaratkan penerimaan terhadap jenazah beliau,” tutur Sukirno, menirukan kalimat Bupati Wonogiri.

Tidak hanya itu yang dialami sang juru kunci Astanagiribangun Sukirno. Beberapa bulan sebelum kematian Soeharto, terjadi longsor mendadak di bawah Perbukitan Astana Giribangun.

Selain pengalaman menggali makam Soeharto, pria kelahiran Karanganyar tahun 1953 itu juga masih ingat ketegangan terjadi di Astana Giribangun, tahun 1998, saat kekuasaan Soeharto berakhir. Masa di mana-mana menghujat dan ingin mengadili Soeharto beserta keluarganya.

Terjadi pula perebutan tanah-tanah serta pengerusakan aset negara yang saat itu dikuasai Soeharto di beberapa daerah. Hingga merembet ada kabar, makam keluarga Soeharto itu bakal diserang dan akan dirusak oleh ribuan masa.
“Bersama warga saya memasang drum-drum di tengah jalan. Di depan pertigaan di depan SD Ibu Tien yang terletak di tanjakan menjelang Astana. Kami memalang puluhan batang bambu ori berduri. Siapa yang melintas dengan berjalan kaki sekalipun, tak bakal gampang menembusnya,” tutur Sukirno.

Malam-malam pun terasa panjang. Orang-orang kampung dan desa secara bersama-sama dengan pengurus dan berjaga di sekitar makam. Dari pesawat komunikasi HT terdengar sandi, misalnya 1.000 “kuda lumping” yang artinya ada seribu pengedara sepeda motor menuju dan bergerak mengarah ke Astana. Atau lima ratus “gerobak” atau 500 pengendara mobil juga.

“Anehnya tak pernah sekalipun mereka hendak melempari Astana dan merusak bangunan makam di sini benar-benar tiba,” kata Sukirno.

Sukirno berkeyakinan arwah para leluhur raja Mangkunegaran datang dan melindungi sebab arwah leluhur bagi orang Jawa diyakini masih bersemayam dan jika dalam situasi darurat akan muncul dan melakukan perlindungan.

Apalagi leluhur mereka yaitu Kanjeng Pangeran Adi Pati arya Sri Mangkunegara I, yang terkenal dengan sebutan Pangeran Samber Nyowo atau Aji Panglimunanya.


Demikian Artikel tentang
Cerita mistis menjelang pemakaman Soeharto, semoga dapat bermanfaat. Terima Kasih

Baca Selengkapnya ....

Kisah Nyata: Kelahiran yang Misterius

Posted by Unknown 0 komentar
Aku sudah satu tahun ditugaskan pemerintah, menjadi bidan desa di kecamatan Tegalgondo,  tepatnya di Desa Tahunan, sejak tahun 2000. Aku berasal dari Kota Nganjuk, provinsi yang sama juga. Perkenalanku dengan Mas Hardi, akhirnya membuatku hidup menetap di daerah terpencil tersebut dalam ikatan perkawinan. Aku dan Mas Hardi sama-sama perantauan. Ia bertugas mengajar di SD Tahunan, dan aku menjadi bidan desa di sana. Bedanya dia berasal dari kota Kediri, dan saya dari kabupaten Nganjuk.

Perkawinanku telah membuahkan dua orang putra, yang kini telah lulus dari SMA, dan yang kecil baru kelas dua SMP di Tahunan juga. Pertama kali aku membangun rumah, ada pengalaman unik yang pernah aku alami, hi ngga kini menjadi catatan manis dalam keluargaku.

Suatu malam, sekitar jam satu malam, tempat praktikku, kedatangan seorang ibu yang berjalan tertatih-tatih dalam keadaan hamil mengetok pintu rumahku. “Bu Bidan, maaf ya saya mengganggu… tolonglah ibu… saya mau melahirkan … ” pintanya, sambil memgang perut yang telah membesar.

Aku segera membangunkan Mas Hardi agar mau membantuku, menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan proses persalinan. “Ibu kok sendirian…” tanyaku sambil membenahi dipan persalinan. “Iya bu, suamiku masih di Tegalgondo…”

Aku tidak mau berpikir banyak. Ibu muda yang akan melahirkan itu segera aku bimbing berbaring pada dipan persalinan di ruang praktikku. “Oek…oeeek….oek!!!!” tangis bayi itu memecah kesunyian malam yang telah beranjak dari jam satu menuju jam dua seperempat. Aku segera membersihkan bayi dan ibunya sesuai dengan prosedur pelayanan kesehatan yang sudah biasa aku lakukan. Sementara suamiku, tertidur lelap di kursi tamu, setelah selama satu jam lebiah ia menunggu.

“Bu, maaf ya bu… malam hari ini saya sudah ngrepotin ibu. Suami saya kebetulan pas pulang ke Tegalgondo. Jadi malam hari ini saya belum bisa melunasi administrasi keuangannya. Tapi anu kok Bu… suami saya tadi siang sudah pesan, kalau malam ini saya melahirkan… ibu bisa mengambil uangnya di Tegalgondo…”

“Sudahlah ibu… ibu nggak usah memikirkan itu dulu. Yang penting kesehatan ibu baik-baik saja….” kataku bijaksana.

“Terus, anu ya bu… saya ingin malam ini diantar pulang saja ya… “

“Oh iya, nggak apa-apa”

Akhirnya aku membangunkan suamiku, untuk mengantar Bu Mugi pulang ke rumahnya, tidak jauh dari rumahku. Di sepanjang jalan mobilku terasa enak sekali. Jalan yang aku lalui terasa datar, seperti di kota saja. Perasaanku pada waktu itu, ruang mobil beraroma seperti kembang yang biasa dibuat untuk tabur bunga di pusara. Suamiku diam saja. Dia juga merasakan hal yang sama. Dan akhirnya tidak berapa lama mobil itu sudah berada di depan rumah Pak Mugi.

“Mari Bu, aku bimbing masuk rumah. Mana kunci rumahnya?”

“Nggak terkunci kok Bu. Sudahlah, ibu nggak usah membantu. Aku bisa berjalan masuk sendiri kok”

Akhirnya Bu Mugi berjalan dan masuk rumah sendirian. Aku dan suamiku hanya bengong melihat kejadian malam itu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. “Sudah mas, ayo kita segera pulang saja. Besok pagi aku akan ke Tegalgondo…”

Malam semakin larut. Kokok ayam pertanda hari sudah pagi, mulai riuh terdengar bersautan. Aku segera membangunkan suami dan anak-anak untuk sholat Shubuh berjamaah di suarau dekat rumahku. Sekitar jam tujuh pagi aku segera mengambil sepedamotor, menemui Pak Mugi di Tegalgondo.

“Assalamu’alaikum Bapak!”

“Wa’alaikum salam!. Mari Bu Bidan masuk!!” sambut Bu Sainem, orang tua Pak Mugi

“Selamat ya Bu… tadi malam istri Pak Muji melahirkan anak laki-laki…” kataku memberi kabar

Bu Sainem terlihat heran, dan bingung. “Maaf Bu Bidan, apa nggak salah…???”

“Benar , ibu. Tadi malam cucu ibu telah lahir, ini lho saksinya suami saya…”

“Betul bu… istri Pak Mugi telah melahirkan di rumah saya…” jelas suamiku jujur

“Tapi begini lho Bu, anakku Mugi itu hingga kini belum punya istri lho. Dan rumahnya yang di Tahunan itu tidak pernah ditempati”

“Jad…jadi…jadi… siapa tadi malam itu????”

Aku jadi penasaran dibuatnya. Aku segera berpamitan pulang. Sesampai di rumah, ternyata tempatku praktik masih dalam keadaan bersih. Seperti tidak pernah ada orang yang baru melahirkan. Demikian juga rumah kosong milik Pak Mugi, juga kosong melompong tiada satupun penghuninya. “Haaaa” aku dan suamiku bulu kuduknya merinding……

Baca Selengkapnya ....

Kisah Nyata Bercinta Dengan Hantu

Posted by Unknown 0 komentar
Cerita ini dikisahkan oleh seorang kenalan saya, seorang pria berusia hampir 60 tahun sebut saja namanya Pak Puspo. Pak Puspo ini sejak muda bekerja pada sebuah penginapan kecil yang lumayan ramai juga di Jl. Prawirotaman, Yogyakarta. Saya ketemu bapak ini pada tahun 2002, waktu itu saya bekerja di sebuah rumahsakit sebagai marketing. Tugas saya menjalin kerjasama dengan hotel-hotel dan penginapan yang ada di Jogja.

Pak Puspo mengisahkan sebuah cerita yang sangat menggairahkan namun sekaligus menegangkan. Kejadianya pada akhir tahun 70an atau awal 80an, saya agak lupa dan terjadi beruntun selama beberapa hari. Waktu itu beliau selain bertugas sebagai recepsionis atau penerima tamu pada siang hari juga sekaligus penjaga penginapan tersebut. Setiap malam beliau tidur di sebuah kamar di penginapan tersebut yang terletak agak di belakang. Penginapan tersebut dibangun entah tahun berapa, tapi sudah cukup tua.

Pada suatu malam kira-kira jam setengah satu, ketika badan sudah mulai letih, Pak Puspo beranjak ke kamar tidur untuk istirahat. Beliau merebahkan badan yang penat ke atas kasur yang cukup empuk dan nyaman, sebentar saja Pak Puspo udah sangat mengantuk. Karena capeknya Pak Puspo tidak sempat menutup pintu yang setengah terbuka. Antara sadar dan tidak Pak Puspo melihat s ekelibat bayangan perempuan melalui celah pintu. Beliau ingat tamu perempuan yang menginap di sana berbadan agak gemuk, tapi yang dilihatnya perempuan yang tinggi semampai dan berambut sampai di atas pinggang. “Agak kaget memang, tapi saya tidak terlalu menggubris, saya lanjutkan tidur saya,” Pak Puspo bercerita dengan semangat.

Malam berikutnya Pak Puspo tidur sekitar jam duabelas malam, karena temannya yang menggantikan jaga di resepsionis tidak terlalu repot. Lagi-lagi pintu kamar dibiarkan setengah terbuka, setelah beberapa waktu merebahkan diri kembali ada bayangan perempuan seperti kemarin malam. Pak Puspo bertanya-tanya dalam hati siapa sebenarnya bayangan itu, namun Pak Puspo kembali tidak terlalu memusingkan diri. Beliau tertidur lelap sampai akhirnya terbangun karena merasa ada yang menyentuh kakinya. Dengan sambil tiduran beliau membuka mata, alangkah kagetnya beliau melihat sesosok wanita yang sangat cantik dengan rambut tergerai duduk di sebelah kakinya.

“Wajahnya cantik sekali mas, tapi memang agak pucat, baunya wangi sekali tapi wanginya halus gak menyengat,” beliau bercerita. “Wanita itu hanya tersenyum manis, kemudian pergi, anehnya saya nggak merasa takut sama sekali,” beliau menambahkan. Setelah itu akhirnya Pak Puspo tertidur lagi sampai pagi hari.

Malam ketiga Pak Puspo merasa penasaran dengan kejadian dua malam berturut-turut itu. beliau sengaja tidur agak awal, sekitar jam sebelas malam. Beliau menunggu sosok wanita itu datang lagi. Satu jam menunggu membuat Pak Puspo agak ngantuk, akhirnya dia tertidur juga. Pada sekitar jam satu malam beliau dibangunkan oleh sentuhan lembut pada kaki. Pak Puspo bangun dan melihat sosok perempuan yang kemarin menghampirinya. “Wanita itu tersenyum, kemudian dengan lembutnya memijit kaki saya,” kata pak Puspo. Lebih lanjut beliau bercerita, “Agak lama dipijit dan pijitannya enak sekali, saya belum pernah dipijit seenak ini. Saya diam aja karena memang bener-bener enak.” Setelah lama memijit, wanita itu tidur disamping Pak Puspo dan mulai membuat rangsangan layaknya suami istri sedang bercinta. Singkat cerita Pak Puspo dan sosok wanita itu melakukan hubungan badan. “Mas rasanya lain, nggak seperti dengan istri saya, ini sangat lembut, hangat pokoknya saya gak pernah mengalami kenikmatan ini sebelumnya,” beliau menjelaskan dengan semangat.

Kejadian ini berlangsung selama beberapa hari mungkin sampai lima kali, Pak Puspo sendiri juga lupa berapa kali beliau tidur bersama sosok wanita tersebut.

Suatu malam setelah kejadian itu, Pak Puspo menantikan saat-saat indah tersebut berulang kembali, namun apa yang terjadi?

Waktu itu sekitar jam setengah dua malam, beliau terbangun dan mencium bau yang sangat anyir, sangat tidak enak dan membuat mual. Beliau bangun, dan bertanya-tanya bau apakah itu, namun belum sempat terjawab, datang sosok besar hitam berbulu dengan mata merah menyala, kuku tangannya panjang-panjang, sangat menakutkan, “dia menunjuk ke arah saya,” kata beliau. Pak Puspo menyebut sosok itu sebagai Gandaruwo. Tanpa basa-basi Gandaruwo itu mencekik leher Pak Puspo, sampai gak bisa bernafas. Beliau bergumul hebat dengan mahkluk tersebut. Dengan spontan Pak Puspo berdoa memohon bantuan dari yang kuasa. Akhirnya Gandaruwo tersebut melepaskan tangannya dari leher Pak Puspo, mundur satu langkah, wajahnya masih menunjukan marah, lima detik kemudian Gandaruwo tersebut pergi dan hilang pula bau anyir itu.

Pak Puspo terduduk lemas di lantai, dan sebisa mungkin berdoa mengucapkan terima kasih pada Tuhan karena telah mengusir mahkluk itu. “Kalau tidak ada pertolongan Tuhan mungkin saya sudah nggak bisa bertemu mas dan menceritakan kejadian itu,” kata Pak Puspo menutup cerita.

Percaya atau tidak, cerita ini benar-benar dialami oleh sesorang dan diceriterakan sendiri kepada penulis.

Baca Selengkapnya ....